Sunday, May 17, 2009

Kenny G Biography






Kenny G has long been the musician many jazz listeners love to hate. A phenomenally successful instrumentalist whose recordings make the pop charts, Kenny G's sound has been a staple on adult contemporary and smooth jazz radio stations since the mid-'80s, making him a household name. Kenny G is a fine player with an attractive sound (influenced a bit by Grover Washington, Jr.) who often caresses melodies, putting a lot of emotion into his solos. Because he does not improvise much (sticking mostly to predictable melody statements), his music largely falls outside of jazz. However, because he is listed at the top of "contemporary jazz" charts and is identified with jazz in the minds of the mass public, he is classified as jazz.



Kenny Gorelick started playing professionally with Barry White's Love Unlimited Orchestra in 1976. He recorded with Cold, Bold & Together (a Seattle-based funk group) and freelanced locally. After graduating from the University of Washington, Kenny G worked with Jeff Lorber Fusion, making two albums with the group. Soon he was signed to Arista, recording his debut as a leader in 1982. His fourth album, Duotones (which included the very popular "Songbird"), made him into a star. Soon he was in demand for guest appearances on recordings of such famous singers as Aretha Franklin, Whitney Houston, and Natalie Cole. Kenny G's own records have sold remarkably well, particularly Breathless, which has easily topped eight million copies in the U.S.; his total album sales top 30 million copies. 1994's holiday album Miracles and 1996's Moment continued the momentum of his massive commercial success. He also recorded his own version of the Celine Dion/Titanic smash "My Heart Will Go On" in 1998, but the following year he released Classics in the Key of G, a collection of jazz standards like "'Round Midnight" and "Body & Soul," possibly to reclaim some jazz credibility.

Faith: A Holiday Album was released that same year, followed up by a limited edition re-release of the 1997 Greatest Hits disc. 2002 found Kenny G dipping into tropical territory with Paradise, which featured guest appearances by Brian McKnight and Chanté Moore. This was followed by a music video collection, another holiday album, entitled Wishes, and, in 2003, a second greatest-hits collection, Ultimate Kenny G. Perhaps in a bid to shake up his discography a bit, in 2004 Kenny G released At Last...The Duets Album, which featured "duets" with LeAnn Rimes and Chaka Khan. Two years later, smooth jazz's king of the soprano sax returned to a purely instrumental approach on the brassy, big-band-inspired albums Holiday Collection and I'm in the Mood for Love. 2006 was also the year the artist was dubbed the best golfer in music by Golf Digest, beating out Vince Gill for the number one spot. In 2008, Kenny G released the Latin-inspired Rhythm and Romance. ~ Scott Yanow, All Music Guide

Thursday, April 16, 2009

Ingin mengenal lebih dekat musisi-musisi jazz dunia, dan perjalanan karir musikalnya? Berikut ini adalah beberapa di antaranya, yang saya rangkum khusus untuk anda!



Thomas Wright Waller



Pianis yang lebih dikenal dengan nama Fats Waller ini dalam sejarah musi jazz dikenal sebagai pianis strideHoneysuckle Rose, Ain’t Misbehavin dan Squeeze Me. Di kalangan para pianis Waller dikenal sebagai ‘Horowitz hitam’ karena kemampuan Waller selalu disetarakan dengan pianis Rusia kenamaan Vladimir Horowitz. ternama. Waller adalah salah satu musisi terkenal di jamannya, dia meraih kesuksesan baik komersial maupun kritik di Amerika Serikat maupun di Eropa. Waller juga penulis lagu handal. Banyak lagu karyanya maupun yang diciptakan bersama orang lain masih dikenal hingga kini, misalnya
Fats Waller lahir di Harlem tahun 1904 dari keluarga musisi. Kakeknya adalah seorang pemain biola dan ibunya adalah pemain organ gereja. Sedangkan ayahnya adalah pendeta di Gereja Baptis Abbisinia, Harlem. Persentuhan pertamanya dengan musik adalah dengan lagu-lagu gereja dan suara organ yang mengiringi lagu-lagu gereja itu. Bahkan, ibu Waller sudah mengajarinya bagaimana cara memainkan organ. Waller juga dikenalkan pada karya-karya klasik Johan Sebastian bach oleh pengarah musik gerejanya.
Saat Waller berusia 6 atau 7 tahun, Waller sangat suka memainkan piano milik tetangganya. Melihat bakat terpendam putranya, ibu Waller kemudian menyewa seorang guru piano untuk melatih putranya. Waller kemudian belajar membaca not dan menulis lagu dari sang guru piano. Namun, sang guru justru menganjurkan agar Waller lebih mengandalkan telinganya dalam belajar musik. Dalam usia 14 tahun Waller memenangkan kontes pencarian bakat setelah memainkan lagu Carolina Shout karya James P Johnson. Hebatnya, Waller mempelajari lagi ini hanya dengan melihat seorang pianis yang tengah memainkan lagu itu.
Tahun 1918, Waller meninggalkan sekolah dan melakukan berbagai pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan bakat pianonya. Tahun 1919, dia mendapat pekerjaan untuk memainkan organ mengiringi pemutaran film-film bisu di sebuah bioskop. Ayahnya ingin agar Waller meneruskan jejaknya sebagai pendeta namun ternyata Waller lebih memilih mengejar karir di dunia musik. Perbedaan ini semakin kentara setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 1920. Saat itu Waller memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya dan memilih tinggal dengan keluarga pianis Russel Brook. Di sinilah dia bertemu dengan James P Johnson dan Willie ‘ The Lion’ Smith, dua pianis ternama di Harlem saat itu.
James P Johnson kemudian membawa Waller dan mendidik dia cara memainkan piano dan meningkatkan kemampuan musiknya secara nyata. Willie Smith memiliki pengaruh terhadap karir musik Waller. Smithlah yang memperkenalkan Waller pada karya-karya para musisi impresionis abad ke-19. Pada tahun 1921, Waller disewa untuk memainkan organ di sebuah bioskop film-film bisu dengan upah $50 sepekan. Setahun kemudian, Waller sudah masuk dapur rekaman di bawah label Okeh Records. Tahun 1923, Waller merekam beberapa permainan piano untuk QRS. Dalam empat tahun selanjutnya, dia merekam banyak album dengan RCA Victor dan menjadi sangat terkenal.
Ada sebuah cerita mengenai Fats Waller. PAda suatu malam di tahun 1926 setelah selesai manggung, Waller diculik para mafia dan dipaksa untuk tampil dalam ulang tahun Al Capone. Pada tahun 1927, Waller kembali masuk dapur rekaman bersama Flatcher Henderson Orkestra dan pada tahun berikutnya dia menjalani debutnya di Carnegie Hall. Tahun 1927, Waller bertemu dengan penulis puisi Andy Razaf dan mereka berdua kemudian bekerja sama menulis lagu-lagu populer seperti Hot Chocolates dan Ain’t Misbehavin yang kemudian menghadirkan kesuksesan baik komersial maupun pujian dari para kritikus untuk Fats Waller.
Tahun 1931, Fats Waller menggelar tur ke Paris dan pada saat kembali ke New york dia membentuk band combo Fats Waller and His Rhythms. Bersama band inilah Fats Waller menggelar show dan masuk dapur rekaman hingga kematiannya. Dia sudah merekam ratusan piringan hitam bersama RCA, dia juga tampil di radio dan membintangi beberapa film. Pada pertengahan 1930-an, Fats Waller secara rutin tampil di kawasan pantai barat Amerika Serikat dan pada tahun 1938 kembali ke Eropa kali ini untuk menggelar tur di Inggris. Pecahnya perang Eropa tahun 1939 memaksanya untuk kembali ke Amerika Serikat. Di kampong halamannya, Fats Waller masih tampil sekali lagi di Carnegie Hall dan melakukan tur Amerika terutama di kawasan pantai barat.
Pada tahun 1943, Waller membintangi film Stormy Weather dan dalam bulan Desember tahun yang sama saat tampil di Zanzibar Room, Hollywood, dia menderita influenza. Akibatnya dia harus memperpendek jadwal penampilannya. Perpaduan antara bertahun-tahun menjadi peminum berat, bekerja terlalu keras dan obesitas menjadi penyeban utama kematiannya dan influenza berat yang dideritanya mengakibatkan Waller menderita sejumlah penyakit lainnya. Pada 15 Desember 1943, saat menumpang kereta api menuju ke New York, Thomas ‘Fats’ Waller meninggal dunia dekat Kansas City akibat pneumonia. Pada tahun 1993, Fats Waller diganjar penghargaan Prestasi Seumur Hidup Grammy Award. (horizontal.com)




Charlie Parker

Sebagai pemain saksofon, Charles Parker secara luas dianggap sebagai salah satu musisi jazz paling berpengaruh. Namanya disejajarkan dengan Louis Armstrong dan Duke Ellington. Parker tak diragukan lagi adalah pemain saksofon terhebat sepanjang masa. Dia tak hanya mampu memainkan nada-nada cepat namun juga memainkan nada-nada lembut dengan sama baiknya. Di kalangan musisi dan penggemar jazz, Parker dikenal dengan nama panggilan Yardbird pada masa-masa awal karirnya dan nama panggilan singkatnya, Bird menjadi julukan Parker hingga akhir hayatnya. Julukannya ini juga menjadi inspirasi bagi sejumlah komposisi karya Parker misalnya Yardbird Suite dan Omithology.
Charlie Parker lahir   dan besar di Kansas City. Pada awalnya, dia memainkan terompet baritone sebelum beralih ke terompet alto. Parker sangat terpengaruh dengan musik Kansas City yang kaya warna, sehingga dia memutuskan untuk berhenti sekolah pada usia 14 tahun, meskipun pada saat itu kemampuan bermusiknya masih sangat meragukan. Setelah beberapa kali tampil dengan hasil buruk, Parker alias Bird bekerja keras mengasah kemampuannya bermusik. Pada tahun 1937 saat pertama kali dia bergabung dengan Jay McShann Orchestra, kemampuan musiknya sudah meningkat pesat dan sudah diramal bakal menjadi seorang musisi sukses di kemudian hari.
Meski sudah mulai tampil bermusik, nampaknya Parker masih ingin berkembang lebih jauh. Tahun 1939 dia memutuskan pindah ke New York, dan pekerjaan pertamanya di kota besar itu jauh dari musik. Dia menjadi seorang pencuci piring di sebuah klub malam. Meski hanya sebagai pencuci piring, Parker memiliki keuntungan yaitu bisa dengan bebas mendengarkan aksi pianis Art Tatum hampir setiap malam. Debut rekaman pertama Parket terjadi pada tahun 1940 bersama Jay McShann. Selain itu dia juga menghasilkan karya solo yang memikat bersama beberapa musisi Jay McShann misalnya Oh, Lady Be Good dan Honeysuckle Rose.
Saat Jay McShann big band mengunjungi New York pada 1941, Parker sudah menghasilkan sejumlah karya solo dan penampilannya bersama orkestra besar ini memukau sekaligus mengkhawatirkan para musisi lain yang belum siap mendengar ide-ide baru Parker. Meskipun Charlie Parker pernah menghasilkan rekaman dengan Tiny Grimes combo pada tahun 1944, namun kerjasamanya dengan Dizzie Gillespie pada tahun 1945 yang mencengangkan dunia musik jazz. Kedua master jazz ini memainkan nada-nada cepat dalam beberapa lagu baru seperti Groovin’ High, Dizzy Atmosphere, Shaw ‘Nuff, Salt Peanuts dan Hot House.
Sayangnya, Charlie Parker adalah seorang pecandu heroin sejak remaja dan celakanya sejumlah musisi yang mengidolakan Parker juga mengkonsumsi heroin dengan harapan kemampuan musik mereka bisa menyamai sang idola. Saat Gillespie dan Parker, yang dikenal dengan julukan Diz and Bird, datang ke Los Angeles dan berhadapan dengan berbagai jenis kekerasan dan perbedaan, mereka memutuskan kembali ke New York. Namun, Parker menguangkan tiketnya dan memutuskan tinggal di LA. Dan setelah beberapa rekaman dan penampilan, kekurangan konsumsi obat-obatan yang ditutupinya dengan mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan, menghasilkan kemerosotan mental berujung perawatan selama enam bulan di rumah sakit Camarillo.
Setelah keluar dari rumah sakit, Januari 1947, parker kemudian kembali ke New york dan terlibat dalam sjumlah penampilan paling penting sepanjang karirnya. Dia memimpin kuintet yang terdiri dari Miiles Davis, Duke Jordan, Tommy potter dan Maz Roach. Puncak ketenaran Parker terjadi pada tahun 1947-1951, selain itu secara rutin dia tampil di Eropa pada 1949-1950.
Namun, Charlie Parker dengan kecanduannya pada obat-obatan terlarang, terlalu senang bermain api. Izin tampilnya dicabut di New York dan akibatnya Parker semakin sulit untuk tampil. Meskipun Parker masih mampu tampil dalam kemampuan terbaiknya seperti saat bersama Dizzie Gillespie di konser Massey Hall tahun 1953, karir Parker tengah menurun tajam. Tahun 1954, dia dua kali mencoba bunuh diri. Setelah itu kesehatannya terus menurun dan pada Maret 1955, Parker meninggal dunia dalam usia 34 tahun. Pada tahun 1988, aktor dan sutradara yang juga penggemar jazz, Clint Eastwood membuat film tentang kehidupan Charlie Parker. Film berjudul Bird itu dibintangi Forest Whitaker yang memerankan sang legenda.
(dari horizontal.com)





Ornette Coleman

Ornette Coleman lahir dan besar di Fort Worth, Texas dan di sana pula dia memulai penampilannya memainkan R&B serta bebop dan memainkan saksofon tenor. Namun, untuk mencari pekerjaan, Coleman harus jauh meninggalkan kampong halamannya. Tahun 1949, dia bekerja untuk kelompok hiburan keliling, Silas Green, dari New Orleans, lalu kemudian dengan kelompok musik blues keliling. Usai pentas di Baton Rouge, Coltrane mendapat serangan dan saksofonnya dirusak.
Setelah insiden ini Coleman beralih ke alto saksofon, karena itulah satu-satunya alat musiknya yang tersisa. Kemudian dia bergabung dengan Pee Wee Crayton dan bersama pekerjaan barunya ini dia berangkat ke Los Angeles. Di kota ini sambil mengejar karir musiknya dia menjalani berbagai macam pekerjaan antara lain pernah menjadi operator elevator.
Sejak awal karirnya, gaya bermusik Coleman dalam berbagai hal tidak bisa dikatakan tradisional. Pendekatannya terhadap harmoni dan pergantian chord jauh berbeda dengan para musisi bebop saat itu. Dia lebih memilih memainkan musim yang dia dengar ketimbang bermain sesuai chorus dan harmoni. Pada tahun 1958, Coleman sudah masuk dapur rekaman untuk perusahaan rekaman Contemporary dan menghasilkan Something Else!!!: The Music of Ornette Coleman. Dalam rekaman ini, Coleman menggaet pemain terompet Don Cherry, drummer Billy Higgins, bassis Don Payne dan pianis Walter Norris. Sayangnya, tak ada dokumentasi yang mengabadikan awal karir Coleman, yang sejak awal karirnya terinspirasi Charlie Parker.
Antara tahun 1959-1961, Coleman merekam sejumlah album klasik untuk perusahaan rekaman Atlantic. Kemudian bersama Don Cherry, Charlie Haden, Scott LaFaro dan Jimmy Garrison pada bas, serta Billy Higgins atau Ed Blackwell pada drum, Coleman menciptakan musik yang kemudian mempengaruhi para musisi tahun 60-an seperti John Coltrane, Eric Dolphy dan para musisi free jazz di pertengahan 1960-an.
Pada tahun 1962, Coleman merasa seharusnya dia bisa memperoleh lebih banyak uang dari yang diberikan klub dan perusahaan rekaman yang mengontraknya, mengagetkan dunia jazz dengan menyatakan mundur sementara dari musik. Tak lama kemudian, dia membentuk trio bersama bassis David Izenzon, dan drummer Charles Moffet. Ini merupakan awal periode kesuksesan internasional yang dibarengi dokumentasi sejumlah rekaman penampilan live dari beberapa tur Eropa pada tahun 1965. Trio ini juga menggarap lagu tema untuk film Chappaqua Suite bersama dengan sebuah ensemble musik klasik.
Awal 1970-an, Coleman memasuki paruh kedua karir musiknya. Dia membentuk dobel kuartet yang menampilkan dua gitar, dua eletrik bas, dua drummer dan saksofon altonya. Grup baru ini bernama Prime Time yang menghasilkan sebuah musik yang ramai dimana semua pemain memiliki peran sama meski penampilan saksofon alto Coleman selalu lebih menonjol. Dia kemudian menyebut musiknya harmodolics yang merupakan symbol kesetaraan antara harmoni, melodi dan ritme, meski mungkin istilah free funk jauh lebih cocok untuk menyebut musik Coleman. Prime Time adalah pengaruh utama musik M-Base Coleman dan Greg Osby.
Pat Metheny – yang merupakan fans lama Coleman, bergabung dengan sang idola dalam komposisi Song X, dan selama 1980-an Coleman masih melakukan reuni dengan anggota kuartet pertamanya. Pada 11 Februari 2007 Ornette Coleman memperoleh penghargaan Grammy untuk prestasi seumur hidup sebagai pengakuan atas karirnya yang panjang di dunia musi jazz.
(dari horizontal.com)

Jazz on Facebook Apa Kata Musisi Jazz Tentang Facebook?

Sihir Facebook tengah melanda dunia. Hingga saat ini saja, misalnya, lebih dari 150 juta orang di dunia terkoneksi di dalam situs jejaring sosial ini. Facebook telah menjadi trend baru penduduk Bumi. Indonesia pun tak mau ketinggalan. Saat ini jumlah account Facebook yang berasal dari Indonesia sudah mendekati angka 1,5 juta orang, dan menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara!
Musisi jazz pun tak luput dari sihir Facebook. Sejumlah musisi jazz tanah air telah terdaftar di Facebook. Di antaranya Indra Lesmana, Benny Likumahuwa, Riza Arshad, Syaharani, Balawan, Bintang, Indro Hardjodikoro, Tohpati, Aksan Sjuman, hingga musisi belia Indra Azis.
Nah, apa saja manfaat Facebook bagi musisi jazz? Bagaimana Facebook membantu para musisi untuk jazz untuk karir musik mereka? Berikut ini adalah komentar sejumlah musisi jazz tentang Facebook.
Balawan (Gitaris)
“Meluaskan networking, menginformasikan sebuah event ke teman dan para fans, sebagai media promo album baru, atau video performance, hingga link ke situs Youtube”
Syaharani (Vokalis Jazz)
“Facebook sangat membantu. Bisa promosi melalui Facebook Pages, Groups, dan biaya iklan baris hariannya juga murah. Termasuk fitur broadcasting melalui Wall dan Status. Facebook juga membantu musisi berkomunikasi dengan fans.”
Riza Arshad (Pianis Jazz)
“Facebook bermanfaat untuk menyebarluaskan hasil pekerjaan saya dan grup (Simak Dialog) kepada khalayak seluas-luasnya, melalui Fan Page, Groups, dan sebagainya”
Indra Azis (Saksofonis)
“Facebook membantu saya mempromosikan karya terbaru, musik, konser, website/blog, video, atau tulisan-tulisan saya. Fitur yang paling sering digunakan adalah Status, Notes, Tagging, Messaging, Post, Share melalui Wall”
Tak dapat dipungkiri, Facebook telah mengubah hidup banyak orang di luar sana. Bertemu teman lama, kangen-kangenan dengan pacar lama, bertemu gadis impian, mendapatkan partner bisnis, hingga mempromosikan album terbaru kepada para fans. Semua dapat dilakukan hanya dengan sekali klik di Facebook.
Di era Facebook, musisi jazz tak perlu repot-repot membentuk fans club secara manual lagi. Semua sudah tersedia secara gratis. Hanya dengan sekali klik, ribuan fans sudah terbentuk dalam waktu singkat. Efek viral dari situs jejaring sosial semacam Facebook, memungkinkan album baru dari seorang musisi jazz tersebar dengan cepat.
Anda juga sering menggunakan situs jejaring sosial Facebook? Apa saja fitur favorit Anda? Bagaimana Facebook mengubah hidup Anda? Apa saja manfaat menggunakan Facebook yang Anda rasakan? Silakan memberikan komentar dan tanggapan Anda.
 (sumber horizon.com)

Jazz on Facebook Apa Kata Musisi Jazz Tentang Facebook?

Sihir Facebook tengah melanda dunia. Hingga saat ini saja, misalnya, lebih dari 150 juta orang di dunia terkoneksi di dalam situs jejaring sosial ini. Facebook telah menjadi trend baru penduduk Bumi. Indonesia pun tak mau ketinggalan. Saat ini jumlah account Facebook yang berasal dari Indonesia sudah mendekati angka 1,5 juta orang, dan menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara!

Musisi jazz pun tak luput dari sihir Facebook. Sejumlah musisi jazz tanah air telah terdaftar di Facebook. Di antaranya Indra Lesmana, Benny Likumahuwa, Riza Arshad, Syaharani, Balawan, Bintang, Indro Hardjodikoro, Tohpati, Aksan Sjuman, hingga musisi belia Indra Azis.

Nah, apa saja manfaat Facebook bagi musisi jazz? Bagaimana Facebook membantu para musisi untuk jazz untuk karir musik mereka? Berikut ini adalah komentar sejumlah musisi jazz tentang Facebook.

Balawan (Gitaris)
“Meluaskan networking, menginformasikan sebuah event ke teman dan para fans, sebagai media promo album baru, atau video performance, hingga link ke situs Youtube”

Syaharani (Vokalis Jazz)
“Facebook sangat membantu. Bisa promosi melalui Facebook Pages, Groups, dan biaya iklan baris hariannya juga murah. Termasuk fitur broadcasting melalui Wall dan Status. Facebook juga membantu musisi berkomunikasi dengan fans.”

Riza Arshad (Pianis Jazz)
“Facebook bermanfaat untuk menyebarluaskan hasil pekerjaan saya dan grup (Simak Dialog) kepada khalayak seluas-luasnya, melalui Fan Page, Groups, dan sebagainya”

Indra Azis (Saksofonis)
“Facebook membantu saya mempromosikan karya terbaru, musik, konser, website/blog, video, atau tulisan-tulisan saya. Fitur yang paling sering digunakan adalah Status, Notes, Tagging, Messaging, Post, Share melalui Wall”

Tak dapat dipungkiri, Facebook telah mengubah hidup banyak orang di luar sana. Bertemu teman lama, kangen-kangenan dengan pacar lama, bertemu gadis impian, mendapatkan partner bisnis, hingga mempromosikan album terbaru kepada para fans. Semua dapat dilakukan hanya dengan sekali klik di Facebook.

Di era Facebook, musisi jazz tak perlu repot-repot membentuk fans club secara manual lagi. Semua sudah tersedia secara gratis. Hanya dengan sekali klik, ribuan fans sudah terbentuk dalam waktu singkat. Efek viral dari situs jejaring sosial semacam Facebook, memungkinkan album baru dari seorang musisi jazz tersebar dengan cepat.

Anda juga sering menggunakan situs jejaring sosial Facebook? Apa saja fitur favorit Anda? Bagaimana Facebook mengubah hidup Anda? Apa saja manfaat menggunakan Facebook yang Anda rasakan? Silakan memberikan komentar dan tanggapan Anda.

Java Jazz Festival 2009 The Remedy, Kesuksesan Seorang Jason Mraz

Meski baru mengenal gitar dalam usia 18 tahun, selera musik Jason Mraz terbilang tinggi. Musisi kelahiran Virginia 23 Juni 1977 ini sangat populer di Amerika Serikat, Jepang dan Australia setelah single perdananya The Remedy (I Won’t Worry), sering diputar di berbagai radio, MTV dan VH1. Kepopuleran The Remedy sangat membantu kesuksesan penjualan album perdana Jason, Waiting for My Rocket to Come, yang berhasil meraih platinum.

Album berikutnya, Mr A-Z – yang bisa juga dibaca Mraz, dirilis pada 26 Juli 2005. Album ini berhasil duduk di peringkat 5, dalam Billboard 200 tangga album terlaris. Dalam pekan pertama ketika dirilis, album ini terjual 90.000 kopi dan pada Desember 2005, album ini meraih nominasi penghargan Grammy .

Untuk mendukung penjualan album ini, Jason menggelar tur di San Diego, September 2005. Pada bulan Januari 2006, Jason menggelar dua konser di Manila, Filipina dalam rangka promosi album Mr A-Z. Pada tahun yang sama, Jason juga menggelar konser di Inggris bersama James Blunt. Saat ini Jason tengah mempromosikan album terbarunya We Sing, We Dance, We Steal Thing yang dirilis 13 Mei 2008.

Single pertama dalam album terbarunya, I’m Yours, berhasil meraih posisi pertama dalam tangga lagu radio AAA di Amerika Serikat. Pada September 2008, komposisi ini menjadi komposisi pertama Mraz yang menembus peringkat 6, Billboard 100 dan hingga Oktober 2008 album ini sudah terjual lebih dari 500.000 kopi di Amerika Serikat saja.

17 Musisi Jazz Indonesia di Facebook

Facebook (FB) semakin digemari. Tak ada hari yang terlewati tanpa mengakses FB. Baik melalui perangkat smartphone, maupun melalui desktop di ruang kerja Anda. Nah, para penggemar jazz pada akhirnya semakin dimanjakan dengan beragam fitur interaktif dari FB. Dengan sekali klik, kita telah menjadi fans dari Syaharani, Pat Metheny Group, Oele Pattiselanno, Bintang Indrianto, hingga Indra Lesmana.

Siapa saja musisi jazz tanah air yang telah memanfaatkan FB untuk aktivitas musikalnya? Berikut ini adalah 17 pendekar jazz yang telah memanfaatkan social media seperti FB, untuk mempromosikan albumnya, menampilkan agenda musik mereka, hingga membentuk fans setianya.

1. Indra Lesmana

2. Dwiki Dharmawan

3. Riza Arshad

4. Syaharani

5. Bintang Indrianto

6. Tohpati Ario

7. Indro Hardjodikoro

8. Aksan Sjuman

9. Oele Pattiselanno

10. Tjut Nyak Deviana Daudsjah

11. Benny Likumahuwa

12. Barry Likumahuwa

13. Yance Manusama

14. Bubi Chen

15. Donny Suhendra

16. Indra Aziz

17. Endah Widiastuti


Demikian 17 musisi jazz tanah air yang telah eksis di FB, yang berhasil kami rangkum untuk Anda. Kalau Anda aktif mencari, sebenarnya masih ada sejumlah musisi jazz lainnya yang juga memanfaatkan FB untuk mendukung promo musik mereka. Sebut saja Balawan, Tiga Mawarni, Andien, Arie Ayunir, hingga Yance Manusama.

Nah, Anda penasaran dengan kiprah mereka di ranah musik jazz Indonesia? Silakan menjadi fans mereka, dan dapatkan update terbaru tentang aktifitas musik mereka secara langsung.

Jazz Today! Jamiroquai Gelar Konser di Jakarta

on April 6, 2009

Sehari menjelang Pemilihan Umum digelar, Java Festival Production (JFP) akan menghadirkan konser yang telah ditunggu penggemar musik tanah air, Jamiroquai Live in Concert, bertempat di Sentul City Convention Center, Bogor, pada 8 April 2009 mendatang.

Konser yang telah dipromosikan sejak event Java Jazz Festival, awal Maret lalu ini, akan dimeriahkan juga oleh sejumlah musisi tanah air, yaitu “DIMI” Featuring: Afghan, Yacko, dan Yan Brault. Sedangkan tiket pertunjukan dijual dengan harga antara Rp. 750 ribu hingga Rp. 3 juta, dan khusus untuk pelajar disediakan harga khusus sebesar Rp. 350 ribu.

Lalu, mengapa Sentul City? Sentul City, yang dijadikan tempat pelaksanan konser, memang memiliki kapasitas jumlah penonton yang besar, yaitu hingga 11 ribu orang. Sedangkan Jamiroquai adalah kelompok musik asing pertama yang manggung di tempat tersebut.

Jamiroquai memiliki penggemar yang besar di Indonesia. Penjualan album kelompok jazz fusion asal Inggris ini juga laris manis di pasaran. Sebut saja Travelling Without Moving (1996), A Funk Oddyssey (2001), Late Night Tales (2003), Syncronized (1999), Dynamite (2006), atau High Times Singles: 1992-2006 (2006).

Kelompok yang beberapa waktu lalu populer dengan komposisi Seven Days in Sunny June ini didukung oleh Jason Kay (Vocals), Derrick McKensie (Drums), Sola Akingbola (Perkusi), Rob Harris (Guitar), Matt Jhonson (Keyboard), dan Paul Turner (Bas).

Nah, sebelum contreng partai pilihan Anda pada Pemilu 9 April, maka konser Jamiroquai, yang digelar 8 April mendatang adalah konser musik yang harus Anda “contreng” untuk ditonton.

Tuesday, March 24, 2009

kepengen belajar saxophone!

boleh aja...
cara memang sulit ,tapi pertamanya. selanjutnya pasti akan terasa ringan ,enak ,menyenangkan ,dan yang pasti gak akan pernah bosan deh...

biar gampang belajarnya ,ya anda hrs punya guru tentunya..heheh.
tapi cara bermain saxo ternyata gak susah2 amat ,pertama kita harus tahu terlebih dahulu not2 balok tentunya. selanjutnya tinggal mempelajari cara memegang saxo yang enak di rasa ,pastinya.
selanjutnya anda tinggal belajar mengetahui not2 apa2 saja yang ada pada saxo (memang banyak sekali) tapi mudah saja klo kita sudah ada niat yang kuat untuk belajar saxo.
tapi jangan lupa untuk membeli saxo yang pas di hati ,itu harus karna biar menambah gairah untuk belajar saxo.

Aslinya, suara saxophone itu halus dan lembut, sesuai dengan orkestra zaman itu. Namun, berhubung dalam perkembangannya dipakai sebagai pengiring musik dansa yang ingar bingar, mau tak mau saxophone harus ikut berteriak juga agar bisa didengar. Untuk itu lalu dilakukan modifikasi dengan membuat mouthpiece, sumber bunyi pada saxophone, menjadi lebih ramping dan lancip. Hasilnya, suaranya menjadi lebih keras, lebih wuiiihhh......

yaa ,memang harga satu saxophone gak murah ,relative mahal tentunya .
tetapi apa salah nya untuk memenuhi hobby yang sudah kita senangi ,harga mahal dirasa jadi murah....

anda harus mencoba nya ,dan saya yakin bila anda coba sekali anda gak akan pernah merasa boring deh ,relaxs ajaa !...


sedikit tambahan ,Bayangkan......... ketika kita mendengarkan alunan suara saxophone dari artis favorite kita, begitu indah dan merasuk ke dalam hati. Kalau kita perhatikan bahwa alunan yang indah itu semua berasal dari nada-nada yang tiap nadanya ditiup dengan sempurna dan dirangkai menjadi satu kesatuan.
Agar kita dapat menghasilkan nada/tone yang bagus maka kita harus banyak berlatih 'longtones' atau nada panjang, yaitu meniup satu nada selama beberapa detik.
Biasanya hanya dua macam dari pemain Saxophone yang berlatih 'Longtones'/nada panjang, yaitu : pemula, disebabkan mereka belum bisa memainkan yang lainnya, dan para profesional, karena mereka mengetahui seberapa penting nya berlatih longtones antara lain :

- Memperkuat embouchure.
- Meningkatkan pernafasan.
- Meningkatkan kualitas tone/nada.

pak SOPIAN selalu mengatakan kepada saya muridnya agar berlatih 'longtones', tetapi saya berpikir itu adalah hal yang paling membosankan, karena saya lebih suka langsung memainkan lagu.

Jelas bahwa pemula perlu berlatih longtones untuk memperkuat embouchures, demikian juga dengan pernafasan, tetapi mengapa seseorang yang sudah berpengalaman cukup lama masih perlu berlatih 'longtones'....? jawabnya adalah : untuk selalu meningkatkan kualitas tone mereka.

Berikut ini adalah Tips yang saya lakukan sebagai materi latihan saya.

Untuk berlatih longtones, lakukan dengan melihat jarum penunjuk detik pada jam dinding diruangan tempat anda berlatih.
Tiuplah nada dari jarum menunjukan angka 12 sampai jarum menunjukan angka 3 (15 detik) istirahat 15 detik lalu ulangi lagi sampai jarum menunjukan angka 9. Tiuplah dari nada terendah naik setengah nada sampai nada tertinggi(kromatik), dan coba meniup dari suara yang pelan ke suara yg keras dan sebaliknya.

Coba berlatih longtones dengan menghadap dinding agar anda dapat mendengarkan bunyi pantulan yang timbul.
Berlatihlah 'longtone' minimal 5 menit setiap kali memulai latihan dan anda akan merasakan perubahan yg menggembirakan.

Selamat berlatih.
GBU all.

Search This Blog

WELLCOME TO JAZZ MUSIC BLOG

every body can read this blog and get many news and also you can join to be a followers.
I hoped all of u went joined to my blog.
thank's
Powered By Blogger

About Me!

My photo
cakep (heheh),pintar ,superhero dll lah.... opps, satu lagi tp jgn blg spa2 y! klo sbnarny aku ini spydey!

my blogs following

Followers